Penambangan Galian C KianParah, Aparat Harus Bertindak

LSM Sebut Bajir Besar Landa Kerinci Dampak Galian C

Berita, Kerinci789 Dilihat

DEPATINEWS.COM, SUNGAIPENUH– Penambangan liar Galian C kian parah di bumi Sakti Alam Kerinci. Para penambang dan cukong, cuek terhadap kerusakan lingkungan. Aparat juga terkesan tutup mata dengan praktek illegal ini

Hingga kini, penambangan liar kian bringas. Aparat sepertinya tak kuasa membendung operasional illegal ini. Aparat terkesan membebaskan penambang untuk memperparah kerusakan lingkungan.

Kondisi ini yang membuat gerah para akrivis lingkungan. Mereka menilai banjir besar melanda Kerinci dan Kota Sungaipenuh ulah penambang liar.

“Kita minta pemangku kepentingan dan APH segera bertindak. Jangan lembek dan tidak membuat takut para penambang liar, ” kata Gusfarman salah seorang LSM Lingkungan kepada pers, kemarin.

Penambangan Tanpa Izin (PETI) Galian C mayoritas beroperasi di Sungai Tuak Siulak Deras, Kecamatan Gunung Kerinci.

Kawasan ini berada di hulu sungai Batang Merao. Sungai ini nengalir hingga ke muara Danau Kerinci. Sungai ini sejak 10 tahun terakhir pemicu banjir besar.

Data diperoleh 20 ribu ton setiap harinya terjadi mengendapan partikel di sungai Batang Merao sehingga terjadi pendagkalan.

Menurut Gusfarman lokasi penambangan juga sudah diluar titik kordinat dan sudah menyalahi aturan.”Kolam Resimen, lokasi penambangan juga sudah di luar titik kordinat, ini sangat menyalahi aturan, ” jelasnya.

Aktivis senior Kabupaten Kerinci ini memnita agar LAH dna Intansi terkait untuk meninjau kembali Izin dari lokasi penambangan tersebut.

Jika pemilik tambang dan pelaku galian C terbukti tidak memiliki izin dapat dijerat Pasal 158 UU RI Nomor 03 tahun 2020 atas perubahan UU Nomor 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara tanpa izin dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda Rp 100 miliar.

Sebelumnya Dosen UGM Dr. Eng. Ir. Akmaluddin ST. MT. IPM menilai kondisi sungai Batang Merao yang membelah dari hulu di Siulak dan Kayuaro sampai ke hilir Danau Kerinci, saat ini sudah jenuh dan terjadi sedimentasi dan pendangkalan akut.

Ini kata Dosen Universitas Gajah Mada, akibat eksploitasi dan kerusakan di wilayah hulu. Disamping Galian C atau penambangan pasir yang sudah over di hulu Batang Merao.
Disampibg banjiri akibat deforestasi dan alih fungsi lahan dikiri kanan sungai. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *